 | Why Mupengnam? | Jan 14, 2008 |
yup. kadang-kadang adakalanya segala sesuatu yang sudah ada, masih kurang cukup. Cukup berekspresi, cukup punya, cukup seru dan cukup sekian. 
|  | kadang2 ada beberapa gambar (images) yang kelihatannya cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan - kebiasaan 'nyarang', diteruskan di internet, heuheuheu... |

|  | kalo orang lain latihan band, kita sih latihan bagaimana cara nge-band, heuheuheu... |
untuk mengetahui kadar stress-nya, Kasino pakai tensimeter.
Download this and other original video files with Multiply Premium.gara-gara kesandung lipatan karpet, Damsyik yang mau menghampiri Kasino malah 'mendorong' Kasino ke luar gedung
Download this and other original video files with Multiply Premium.berhubung musuhnya dari jepang, Dono merasa perlu berubah jadi jagoan jepang juga untuk melawan. perhatikan kelincahan 'dono' dalam kostum gaban - kayak jangkrik deh....
Download this and other original video files with Multiply Premium.Untuk antisipasi sewaktu menghadapi gang Satomata, Kasino diberi pistol oleh Damsyik. Sejak awal Kasino sudah sadar bahwa dia juga punya pematik rokok dengan bentuk yang sama.
Download this and other original video files with Multiply Premium.
|  | potret (abis gaj punya scanner sih) majalah2 jadul. |
 | 80-an | Jun 2, '08 10:48 PM for everyone |
Kasino di tawari makan bistik spesial (pake saus kecap?) oleh tante2 yang MPO
Download this and other original video files with Multiply Premium.Oom Henky berperan jadi pelayan di restoran yang nama menu andalannya bikin lidah terbelit seperti La Genggo Palestina Burr Maskoppen La Titite Honanza Soreang Gagarumpi.
Download this and other original video files with Multiply Premium.sebetulnya berasal dari klip demo kibor roland, cuma di stripe audionya aja. Paijo dan Slamet yang wong ndeso di tempat kost. Kenalan dengan Sanwani asli Betawi dan Poltak anak Siantar
Download this and other original video files with Multiply Premium.
analogi terhadap anatomi wajah dono yang sangat populer.
Download this and other original video files with Multiply Premium.Klip ini adalah salah satu favorit gw. Liat aja Dono dan Indro begitu salah tingkah, sewaktu ibu kost yang hwehehehehe, masuk kamar kost mereka. Diambil dari film Mana Tahan.
Download this and other original video files with Multiply Premium.Tadi pagi, saya baca di harian kompas, ada iklan ttg PDAphone merk-nya lupa. Pas saya baca spek-nya, ada yang sedikit mengganjal pas baca kalimat ' 64 chord polyphony'. Kok aneh ya? Setau saya, yang namanya chord, akord, grip (istilah orang gitar), itu artinya menurut wikipedia; kumpulan tiga nada atau lebih yang bila dimainkan secara bersamaan terdengar harmonis. Akord bisa dimainkan secara terputus-putus ataupun secara bersamaan. Akord ini digunakan untuk mengiringi suatu lagu. Ketika Anda menekan tiga tuts piano C, E dan G secara bersamaan, ini berarti anda sudah memainkan akord.Balik ke PDAphone, emang key/tombolnya ada berapa? Terus bisa dipencet barengan untuk menghasilkan bunyi yang harmoni? Kalo ternyata yang dimaxud bukan itu, ato mungkin bisa menyuarakan 64 chord? Kalo not dalam 1 oktaf ada 12 (termasuk tuts item maxudnya), berarti bisa bunyiin chord Mayor, Minor, 7, Mayor7, Minor7 - 12 not kali 5 udah 60 chord lho. sisa 4 lagi apa? padahal itu belom termasuk chord dim, aug, sus dsb. Salah Kaprah gak sih? Kalo menilik kata konvergensi, saya ambil gampangnya aja, berpadunya beberapa fungsi kerja dalam satu alat sehingga menghasilkan kesinambungan hasil. Lho kok alat? Iya, saya emang mau nulis tentang konvergensi pada alat. Suatu alat yang memiliki fungsi lebih dari satu, sering juga disebut multifungsi. Contoh gampangnya ada. Pasti udah pada tau dong yang namanya magic jar? Itu lho yang fungsinya buat menanak nasi sekaligus menjaganya agar tetap hangat. Nah fungsi pertama jelas, menanak nasi. Kita tinggal masukin beras (secukupnya atau seadanya), tambah air, colokan listrik tancep ke stop-kontak, di-on kan, tinggal tunggu. Fungsi ini sudah ada sejak awal 70an yang namanya RiceCooker. Hanya saja, buat sebagian orang (termasuk saya), nasi yang dimasak dengan cara ini kadang-kadang kurang cocok selera karena terlalu lunak � kurang cocok untuk makan dengan kuah yang banyak/sayur . Kalo sekali masak langsung habis, jelas gak masalah. Tapi kalo gak habis? Ada 3 alternatif. Pertama (favorit saya), bikin nasi goreng. Kedua, angetin lagi. Ketiga, jatah ayam - buat yang masih miara ayam. Yang enggak? Tapi hari gini kok buang-buang nasi? Rasanya gimanaaaa gitu. Sementara masih banyak orang yang gak bisa makan nasi. Ngangetin nasi? Makan nasi yang anget emang enak, pake sambel + ikan asin (apalagi pake ayam panggang, lalap komplit, heuheuheu) aja udah seru. Tapi kok kayaknya keburu lapar ya? Mesti ngidupin kompor dulu, nunggu nasi anget baru deh bisa makan. Munculah fungsi kedua yaitu menjaga agar nasi tetap hangat sehingga kapanpun mau dimakan, tinggal buka, nyentong deh (maxudnya ambil nasi pake centong). Sebetulnya 2 fungsi sudah cukup memadai buat orang-orang yang masih single atau pasangan baru dan nge-kos tapi gak mau duitnya habis buat makan diluar. Tapi sepertinya produsen punya niatan lain, ditambahlah fungsi buat mengukus � jadi sekarang kita bisa ngangetin martabak manis sisa tadi malam atau mungkin putu (yang bukan diah)? Eh udah gitu ditambah lagi fungsi-fungsi lain, yang bisa bikin kue lah, masak sayur, bikin bubur, bikin es batu (eh, gak mungkin ya, heuheuheu) dan sebagainya, sampe kita yang mau beli jadi bingung sendiri. Alhasil, yang tadinya cuma mengakomodasi urusan nasi aja, malah merembet ke urusan lain. Contoh lain lagi. Kalo kita sempet jalan-jalan, entah ke mall, atau ke pasar, pasti pernah liat radio kecil yang bisa masuk saku baju yang kadang-kadang diobral cebanan (Rp.10.000). Cassette Player (walkman maxudnya) juga kadang-kadang udah dijual murah � masalah mutu dan keawetan jadi nomer kesekian, yang penting laku dulu. Orang terus bikin juga Radio Cassette. Belakangan, produsen berusaha menggabungkan beberapa fungsi kedalam satu alat � walaupun kelihatannya aneh. Player DVD yang ada radio, kaset, ampli karaoke lengkap dengan jack colokan buat input gitar listrik, kibor dan bass gitar. TV yang ada radionya, telepon FWT (bukan ponsel) yang ada radionya, kulkas yang ada oven penghangatnya, dan yang paling parah menurut saya adalah kulkas yang bisa buat internetan. Dan masih banyak lagi, konvergensi yang kalo hemat saya, terlalu mengada-ada. All in one memang menarik. Bayangin aja, beli satu tapi bisa difungsikan banyak hal. Tapi kalo yang digabungkan terlalu banyak? Malah bikin bingung kayaknya deh. Ponsel berkamera yang ada radionya, jelas masih masuk akal. Kalo masih ditambah media player/mp3 player, makin asyik deh. Bisa ada games-nya? Pasti seru kan? Kalo gak salah inget, BenQ Siemens dan Philips malah pernah buat ponsel yang kameranya bisa dijadikan webcam � buat chating asoy tuh. Kalo ditambah bisa nonton siaran TV? Waduh, yang bener aja dong, seluas-luasnya layar ponsel, kalo kelamaan baca teks terjemahan film pasti bikin pusing. Tapi ya itu, teuteup ada aja produsen yang bikin, dan jadi tren. Saya pernah mencoba berpikir lurus, niat beli gadget sesuai dengan fungsinya. Ponsel budget 1 jutaan yang penting bisa buat ngomong dan enak buat bikin sms tapi modelnya juga jangan yang terlalu ketinggalan banget. Kamera digital 2 megapiksel aja, kan udah banyak yang dibawah sejuta perak. MP3 player kapasitas 512MB-1GB cukup buat nemenin sepanjang perjalanan Bogor Jakarta Bogor. Paling tambahannya yang bisa radio FM juga. Kayaknya udah cukup deh, toh game gak penting banget. Pas waktunya survey, liat kamera digital udah ada yang bisa games, MP3 player juga. MP3/MP4 player ternyata ada yang bisa buat motret juga � rekam video malah. Lha, disini fungsinya malah saling overlap, yang bisa dilakukan MP3 player, bisa juga dilakukan kamera digital. Belum lagi bawa seonggok alat-alat tadi. Bisa-bisa untuk menenteng kemana-mana kudu diwadahi tas pinggang. Ribet dah pokoknya. Buntut-buntutnya, saya malah beli ponsel Nokia seri 6 rilis tahun lalu (bukan model terakhir), tapi yang penting semua fungsi bisa terakomodasi dengan baik, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada kamera 2 megapiksel, bisa rekam video 3gp sampe resolusi VGA, radioFM, MP3 player, internal speaker stereonya (2 lho, kiri kanan) lumayan enak didenger, dan yang terpenting, model gak terlalu aneh, enak digenggam, pas masuk saku. Kesimpulannya apa? Sifat konvergensi pada all in one memang menarik. Tapi pasti ada resikonya. Ponsel serba bisa tadi, misal kalo kebanyakan dipake buat denger file mp3, jelas baterenya cepat habis. Giliran ada telepon atau sms yang penting bakal masuk, salah-salah gak bisa diterima. Belum lagi kalo ternyata cuma mode sesaat yang sewaktu-waktu trend-nya bisa lewat. Sekitar taon 80an, pernah ada RadioKaset (JVC kalo gak salah merknya) yang ada TVnya! Gaya banget rasanya kalo piknik (ke kebun raya sekalipun) sambil nenteng-nenteng radio kaset ini. Jangan dulu berpikir TV portable kayak jaman sekarang yang tipis karena udah gak pake tabung gambar alias layar LCD. Besarnya lebih kurang sebesar casing komputer ukuran mini ATX. Berat? Pasti. Yang bikin ukurannya jadi besar karena masih pake tabung gambar, padahal ukuran layarnya kalo gak salah gak lebih dari 3 inci. Kebayang kan kalo pake batere? Pasti boros banget. Belum lagi kalo belakangan TVnya rusak. Fungsi TV ilang tapi badan tetap tambun. Satu lagi. Ponsel berkamera pun, sebetulnya lebih mengedepankan fungsi ponsel, bukan kamera. - terlebih yang belum megapixel. Jadi kalo hasil fotonya gak bisa dicetak bagus lebih besar dari wallet size 2R (kira-kira resolusi VGA 640x480) ya, harap maklum aja. Eh, kebayang gak kalo kapan-kapan ada kamera berponsel? 
|  | Sakap means Salah Kaprah. Bisa jadi karena memang gak tau, atau bahkan sok tau, supaya keliatan lebih gagah..... |
| |